Dari Ruang Kecil Hingga Area Turnamen
Ketika SMP, dunia tiba-tiba berubah. Pandemi COVID-19 melanda, dan seperti anak-anak lain di seluruh dunia, aku harus beradaptasi dengan kehidupan baru. Sekolah berubah menjadi layar Zoom yang membosankan, dan ruang gerakku terasa semakin sempit. Tapi ada satu hal yang tetap yaitu kecintaanku pada game. Dari pagi hingga malam, game menjadi pelarianku, tempat di mana aku bisa merasa bebas dan tanpa batas.
Namun, di balik kesenangan itu, orang tuaku mulai khawatir. "Kamu lagi-lagi main game? Kapan kamu belajar?" tegur ibuku suatu malam, dengan nada suara yang semakin tegas setiap harinya. Kemarahan mereka semakin sering muncul, seiring jam bermainku yang semakin panjang.
Setiap kali dimarahi, ada rasa kesal yang tumbuh dalam hatiku. Namun, perlahan, rasa itu berubah menjadi kesadaran. Aku mulai berpikir, “Benarkah aku hanya membuang waktu?” Saat itulah aku memutuskan sesuatu: aku harus menemukan cara untuk membuat hobiku ini lebih berarti.
Dari situlah perjalananku yang baru dimulai. Aku mulai mencari teman-teman yang juga tertarik dengan game kompetitif. Bersama mereka, kami membentuk tim, bukan hanya untuk bermain, tapi untuk berlatih, belajar strategi, dan ikut turnamen kecil-kecilan yang diadakan secara online. Kami kalah berkali-kali, tapi setiap kekalahan hanya membuat kami semakin tangguh.
Ketika akhirnya kami memenangkan turnamen pertama kami, bukan hanya rasa bangga yang kurasakan, tetapi juga kepuasan. Maret 2022 menjadi titik awal yang mengubah segalanya. Kami memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lebih besar yaitu turnamen offline pertama kami, kualifikasi Piala Walikota tingkat kecamatan. Kami bertanding dan berhasil meraih juara ketiga. Hasil itu membawa kami ke kualifikasi tingkat kota. Di sana, meski sudah berusaha semaksimal mungkin, langkah kami harus terhenti di babak 8 besar.Kegagalan itu sempat menghantam kami keras. Tapi, kami tidak menyerah. Kami bertekad untuk terus berjuang. Kami berjanji satu sama lain, "Kami tidak akan berhenti sampai bisa memenangkan turnamen tingkat kota." Ikrar itu menjadi semangat kami untuk terus maju.
Sejak saat itu, kami rutin mengikuti turnamen kecil di tempat-tempat sederhana seperti warung kopi dan burjo, tempat di mana tak ada sorak sorai atau panggung megah. Tempat di mana hanya ada tekad kami yang membara. Meski begitu, kekalahan demi kekalahan terus datang. Tidak sekalipun kami meraih kemenangan. Namun, janji kami untuk tidak menyerah selalu menjadi pengingat dan sumber kekuatan.
Hingga akhirnya, setelah hampir satu tahun mencoba, kami merasakan manisnya kemenangan pertama kami di sebuah turnamen kecil di burjo. Suasana euforia itu sulit dilupakan, senyuman, sorak sorai kecil dari pengunjung, dan pelukan kebahagiaan di antara kami. Itu adalah kemenangan yang sederhana tapi sangat berarti. Kami akhirnya merasakan bagaimana rasanya menjadi pemenang.
Beberapa kemenangan kecil lainnya menyusul, dan ini meningkatkan kepercayaa
n diri kami. Dan kemudian, pada September 2023 kabar baik pun datang, Piala Walikota 2023 akan diadakan kembali. Dengan semangat dan pengalaman yang kami kumpulkan selama ini, kami mendaftar. Pertandingan kali ini jauh lebih berat, tetapi dengan strategi yang matang dan kerjasama tim yang kuat, kami berhasil mencapai semifinal. Akhirnya, kami keluar sebagai juara ketiga di tingkat kota.
Meski tidak menjadi juara pertama, ada kepuasan yang tak ternilai. Kami berhasil masuk tiga besar, dan lebih dari itu, kami membuktikan bahwa kami adalah tim yang tidak mudah menyerah. Janji yang pernah kami buat saat SMP akhirnya terpenuhi. Ini bukanlah akhir, tetapi sebuah awal baru bagi kami untuk terus maju dan berjuang lebih keras lagi.

Comments
Post a Comment